Muhammad Miftahul Alam:
Berbagi Menuai Bahagia,
Kisah Kebaikannya Jadi Legenda
Kebaikan seseorang semasa hidup, akan senantiasa dikenang kekal sepanjang masa. Sekalipun ia telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Semua cerita kebaikan yang ditinggalkannya abadi laksana legenda. Namanya pun harum dalam doa sekaligus menjadi inspirasi tauladan sekitar.
”Almarhum bapak saya menjadi sosok legendaris buat kami sekeluarga. Banyak sekali cerita kebaikan yang telah beliau lakukan semasa hidup. Kisah itu saya dengar dari orang-orang sekitar. Satu diantaranya ibu saya yang menyampaikan sifat berbagi welas asih dengan sesama, dari bapak patut diteladani. Waktu bapak meninggal usia saya masih 3 tahun,” beber A’an panggilan akrab Muhammad Miftahul Alam membuka perbincangan dengan tim Madani Peduli.
A’an mengakui kehadiran sosok bapak dalam hidupnya dirasakan cukup singkat. Namun sifat kebaikan almarhum yang senang berbagi dengan sesama telah tertanam dalam sanubarinya.
”Ada kerinduan akan sentuhan beliau. Namun setiap kali saya melakukan aksi berbagi makanan atau minuman kepada yang membutuhkan, beliau seperti ada disamping saya. Energi positifnya begitu terasa melalui kebaikan berbagi. Ada bahagia disana,” tutur pria kelahiran Sragen 38 tahun lalu ini

Kepada anak-anak, ayah dari dua putra ini ingin menularkan legenda kebaikan sang kakek. Setiap kisah kebaikan almarhum meninggalkan jejak kebahagiaan bagi orang-orang yang pernah mengenangnya. A’an mengingatkan ukuran sukses bukan sekedar bicara materi dunia, namun juga harus ada kebermanfaatan bagi sesama.
“Pemahaman sukses, tidak cuman kaya secara materi dan bisa keliling dunia. Karena itu sebetulnya baru setengah jalan dari arti sukses. Sedangkan separuhnya, bagaimana kesuksesan yang telah diraih itu juga bisa memberikan bahagia bagi banyak orang sekitar,” ujarnya.
Menurut A’an, apalah arti harta kekayaan menumpuk, jabatan tinggi dan makanan berlimpah, namun tidak sedikitpun mau berbagi. Karena itu belum bisa dibilang sukses.
“Jika berbagi yang kita berikan itu, bisa membuat kita pribadi dan orang lain yang menerima, sama-sama menjadi bahagia. Itu baru bisa dibilang kesuksesan sejati. Contoh jika kita makan enak dan kenyang, kemudian melihat orang lain menahan lapar, itu namanya belagu bukan sukses,” tandasnya.
Karenanya, ia selalu berpesan terutama kepada anak-anak untuk berbagi, sekecil apapun agar orang lain bahagia. Utamanya saat memiliki rezeki lebih, bisa dibagikan kepada yang membutuhkan.
“Umpamanya kita punya tiga piring makanan. Jika dengan satu piring cukup mengenyangkan, kenapa harus ada tiga piring. Maka dua piring lainnya bisa kita bagikan kepada orang lain. Seketika itu, orang yang menerima bahagia dan kita ikut bahagia,” tutur alumni UGM jurusan pertanian ini.
Sebagai kepala rumah tangga, ia tak segan memberi contoh aksi berbagi. Satu diantaranya rajin sedekah makanan di salah satu masjid. Aksi berbagi ini diharapkan bisa diikuti jejaknya oleh keluarga dan rekan sejawat. Sehingga tidak ada lagi makanan berlebih yang dibuang percuma, sementara di luar sana masih banyak yang mengharapkan.

“Alhamdulillah, sampai saat ini masih jalan sedekah makanan ke masjid pemuda. Disana, banyak dijumpai musafir yang singgah untuk menginap dan mereka butuhkan makanan. Maka, saya ajak anak-anak untuk berbagi ke sana. Termasuk rekan-rekan bisnis ikut terlibat menyalurkan makanan berlebih,” terang suami Cita Farlamita.
Tak kalah penting, lanjutnya, dari semua aksi berbagi yang telah dilakukan adalah bersyukur. Karena dengan bersyukur atas segala nikmat yang didapat, Allah SWT pasti akan menambah pemberianNya.

“Setiap malam, saya ajarkan kepada anak-anak pada saat berdoa untuk selalu mensyukuri hal-hal kecil yang sudah mereka terima di hari itu. Alhamdulillah, Ya Allah, bisa makan enak, tidur di kasur yang empuk, mandi di air yang bersih. Terimakasih Ya Allah, diberi kesehatan dan bisa kumpul bareng,” akunya.
Ayah dari Byakta Bhumi Sanjaya dan Langit Pagi Sanjaya ini, selalu berpesan kepada mereka, agar tidak pernah lupa dengan hal-hal kecil. Senantiasa bersyukur dan berbagi sehingga membuat diri bahagia, adalah hal paling otentik dalam memaknai hidup.

“Selama ini banyak orang just take for granted saja, meremehkan atas pemberianNya, yang dianggap seolah-olah itu biasa. Gak perlu disyukuri. Padahal hal-hal kecil itu sebetulnya melembutkan hati dan menghangatkan perasaan kita. Jika hidup penuh dengan syukur, maka hati akan tenang,” ulasnya.
Pemilik usaha minuman segar Bee Juice ini mengaku upaya mendidik anak menjadi insan berhati lembut dan welas asih seperti mendiang sang kakek berhasil. Tanpa dikomando, anak aktif membagikan makanan berlebih kepada lingkungan yang membutuhkan.

“Alhamdulillah, jiwa berbagi dalam diri anak-anak sudah terbentuk. Tanpa saya atau istri perintahkan, mereka sudah langsung tanggap. Bahkan seringkali anak-anak mengingatkan kami, seperti yuk kita bikin masakan lagi trus dibagikan atau di suatu jalan pernah berbagi kepada seseorang, besoknya anak-anak mengajak untuk mengulangi kebaikan itu secara kontinyu,” tuturnya dengan wajah sumringah.
Entrepreneur muda bidang usaha supply dan toko buah serta sayuran segar ini optimis, melalui kebaikan berbagi pasti menuai bahagia. Kisah sukses ini diwariskan pada generasi berikutnya. Bahkan, Legenda dari banyak cerita kebaikan yang ditinggalkan para pewaris tersebut akan mendatangkan berkah sukses bagi anak cucu.
“Seperti saya, bisa sampai di titik ini, karena kebaikan Allah. Kemudian saya bisa dibilang sukses, ketika anak-anak saya meneruskan kebaikan dari berbagi. Begitu seterusnya, sukses saya dan keturunan merupakan berkah kesuksesan dari legenda kebaikan yang telah dilakukan para Mbah buyut pendahulu,” tegasnya.

A’an berpesan kepada anak-anak agar terus merawat kebiasaan berbagi. Sehingga setiap kebaikannya ada kebahagiaan yang dirasakan bersama. Intinya, antara berbagi dan bahagia menjadi satu kesan melekat yang tak terpisahkan.
“Kelak ketika saya tiada, anak-anak tetap bisa mengenang kebaikan dari hal kecil berbagi yang pernah saya lakukan. Kisah berbagi yang saya berikan seperti dilakukan almarhum bapak bisa abadi melegenda. Harapannya mereka bisa realized kebaikan ini sebagai sebuah legacy yang terus hidup,” pungkas anak keempat dari enam bersaudara ini.
Bentuk kepedulian untuk mengejar akherat, bisa disalurkan melalui program wakaf tanah bagi pengembangan pendidikan Madani peduli. Selain itu bisa juga berupa zakat dan sedekah Peduli Guru Ngaji (Fisabilillah) dan peduli santri tahfidz qur’an. Dipilihnya Madani Peduli sebagai tempat menyalurkan zakat, infaq serta sedekah karena Madani Peduli fokus pada pendidikan Tahfidz Al Qur’an, hingga saat ini Madani Peduli sudah meluluskan santri sebanyak 30 tahfidz dengan biaya dari para infaq donatur.
Anda berniat menjadi mitra dalam pendidikan Al Qur’an
Informasi selengkapnya
www.madanipeduli.or.id
Hub layanan Madani Peduli 0812-3000-0561
Donasi Rek. BSi 99 561 561