Jabatan mentereng dan gaji tinggi bukanlah menjadi jaminan ketenangan batin seseorang. Demikian pula Fasilitas mewah serta gelimang harta perhiasan juga tidak serta merta memberikan kebahagiaan keluarga.
“Kurang lebih 13 tahun saya bekerja ikut perusahaan asing. Saat itu, saya sudah menduduki jabatan tinggi, Manager Research and Development (RnD) dengan gaji dua digit. Tapi hati ini serasa hampa dan kosong. Padahal semua fasilitas mewah juga dipenuhi, perhiasan pun lengkap,” ungkap Edy Waluyo membuka perbincangan dengan tim Madani Peduli.

Suami Vrdayani ini menuturkan pengalaman sebagai karyawan perusahaan besar, tapi hatinya hampa karena jauh dari Sang Maha Pencipta. Ia juga mengakui pekerjaan yang digelutinya kala itu, sama sekali tidak memberi nilai-nilai spiritual.
“Setiap bekerja, selalu gelisah. Seperti ada yang bertentangan dengan hati nurani. Gaji tinggi, bisa keliling kemana-mana tapi hati tidak tenang trus buat apa? Kalau kita tidak bisa menikmatinya,” tandas alumnus ITS Jurusan Teknik Kimia ini.
Kemudahan yang didapat secara instan, diakui habisnya juga cepat. Terlebih Cara mendapatkan uang itu, dilakukan melalui aksi tidak benar. Akibatnya resiko yang diterima, sesuai dengan prinsip tabur tuai.
“Dapatnya cepat, lenyapnya juga seperti kilat. Contoh uang gampang didapat, namun juga mudah sekali menguap. Salah satunya ditipu orang. Kemudian beli mobil tiba-tiba dibawa kabur orang. Perhiasan juga demikian hilang dicuri. Hukum tabur tuai, berlaku disitu.” Tekannya meyakinkan.

Edy menyebut kisah titik balik dalam hidupnya, terjadi saat ia menjumpai seorang ibu single parent di Kota Mataram. Semangat ibu itu dalam berjualan makanan demi menghidupi 4 anak, berhasil menggugah kesadarannya yang selama ini memberikan kebahagiaan semu.
“Ibu itu, bahkan mampu menguliahkan semua anaknya. Kuncinya yakin sama Allah. Ia bahkan mengatakan saya ini sombong, karena tidak percaya dengan Yang diatas. Seperti dihantui rasa takut untuk tidak berani memulai usaha. Mendengar kata-kata tersebut, hati ini rasanya seperti disentil. Ternyata ibu itu tidak takut dengan kegagalan bisnis karena ada yang menjaga yaitu Allah,” terang Edy serata menerawang masa lalunya.
Kegundahan dan keraguan untuk melepas posisi karyawan dengan gaji fantastis, akhirnya ditrabas. Keputusan itu diambilnya, Setelah mendapat dukungan penuh dari sang Istri.
“Awalnya sempat ragu. Namun berkat penguatan moril dari bidadari saya yakni istri untuk tidak takut memulai usaha, akhirnya saya bulatkan tekad. Terciptalah produksi ini. Bismillah, demi meraih ridho Allah, akhirnya saya keluar dari perusahaan lama,” aku Owner Vrda Banana Cake sambil menunjuk produk yang dimaksud.

Memulai bisnis dari nol dengan tanpa karyawan, Edy meyakini dirinya justru tidak sendirian. Ada Allah yang menemani dan menguatkan hati karena dekat denganNya. Melalui keyakinan itu, ia secara perlahan mulai menemukan kebahagiaan hakiki.
“Memulai bisnis kecil, ibadah saya mulai terjaga, sholat jadi tepat waktu. Beda dengan dulu saat menjadi karyawan perusahaan asing. Bahkan batin sekarang makin tenang, karena makin dekat Allah. Itu yang menggerakkan tekad,” bebernya.
Ia mengaku memulai bisnis Cake Pisang di tahun 2015 diibaratkan seperti perjalanan naik gunung. Awalnya diliputi rasa takut, gelisah dan kekhawatiran. Namun, setelah berjalan 10 tahun, bisa melewati ketakutan itu semua, dan akhirnya bisa mencapai ketinggian.
“Dari semula hanya 1 outlet, tak terasa kini sudah memiliki 5 outlet dengan 20 karyawan. Semula usaha, ada aja keraguan. takut kehilangan pemasukan, khawatir tidak bisa makan, atau gelisah jika gagal. Namun sesampai di ketinggian, semua ketakutan itu menjadi hilang. Dari situ, kami bisa melihat pemandangan yang indah dari ketinggian. Semua berkat pertolongan Allah,” ulas penghobi mendaki gunung ini.
Usaha dibarengi doa dan ibadah, pasti dibantu Allah melalui cara-cara yang tidak terduga. Keberkahan rejeki yang tak disangka itu disebutnya sebagai bonus dobel.
“Contoh kompetitor sejenis dengan produk saya ini, tiba-tiba datang membantu memasarkan. Termasuk aneh dan gak masuk akal. Tapi itu riil terjadi. Intinya ada pada proses. Jika dilalui benar atas ridho Allah, bisa dapat bonus justru dobel yakni barokah dan jackpot (untung besar),” terangnya.
Edy menegaskan jika bisnis dijalankan tanpa hutang (riba), pasti hasil akhirnya akan berbuah manis. Pengalaman itu sempat dirasakannya saat pandemi covid-19 melanda negeri ini. Bisnis yang dasari ada unsur riba bakal celaka atau bahkan gulung tikar. Namun usaha miliknya justru selamat dan makin bertambah besar sampai sekarang.
“Saya orangnya berpegang teguh pada prinsip. Salah satunya tidak mau merintis usaha dengan berhutang. Karena disitu ada unsur riba. Sesuai firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 130 yang isinya Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. Ayat ini benar terjadi dalam kehidupan. Seperti saat covid-19, usaha teman saya yang dari modal riba seketika bangkrut. Sedangkan punya saya aman, bahkan tambah berkembang. Karena saya yakin, ini ada peran Allah,” ulasnya penuh keyakinan.

Pria kelahiran Banyuwangi, menekankan pentingnya usaha menggunakan modal uang sendiri, walau kecil. Dibarengi dengan rasa syukur tinggi dan prosesnya dilalui dengan benar, maka keuntungan yang didapat juga barokah. Bahkan, bisa menggerakkan hati berangkat ke Mekkah.
“Dulu saat jadi karyawan perusahaan asing, duit banyak. Tapi tidak muncul keinginan berangkat ke baitullah. Namun setelah mempunyai usaha ini, saya justru tergerakan kaki untuk menginjak ke tanah suci (Umroh) bersama keluarga dua kali, ” tegasnya tanpa bermaksud riya’.

Edy menekankan dalam berbisnis, seorang pengusaha tidak boleh pelit. Penting membagikan apapun yang dipunya, sekecil apapun pemberian ke orang lain dan itu berarti bagi penerimanya adalah suatu sikap luar biasa. Iya meyakini sesuatu yang dikeluarkan, Pasti diganti oleh Allah SWT.
“Contoh, saya punyanya produk banana cake. Tiap hari, saya bagikan barang makanan itu ke mereka yang membutuhkan. Atau sekaligus tempat tinggal saya sering digunakan pengajian. Dampaknya, mereka senang dan bahagia. Saya juga demikian, merasakan keberkahan dari rumah saya menjadi lebih sejuk karena dilimpahi doa-doa,” akunya.
Dalam usaha, ia juga tak lupa untuk selalu menyisihkan sedekah uang yang dilakukan secara berulang – ulang, tentunya dibarengi rasa syukur setinggi-tingginya. Sebab melalui sedekah dan rasa syukur akan meraih keberkahan dan keuntungan berlipat.

“Rasa syukur dari bisnis harus tetap dijunjung tinggi. berapapun dapatnya dan bahkan tidak laku pun barang, tetap wajib disyukuri. Karena mungkin belum rejeki. Demikian pula dengan sedekah tetap harus dilakukan. Bahkan bila perlu berulang secara kontinyu dan yakinkah keberkahan pasti tak akan berkurang. Justru rejeki nambah berlipat. Seperti yang saya alami saat ini. ingat bisnis tanpa hutang bikin hati tenang dan rejeki lapang,” pesan ayah dari 4 anak ini, menutup obrolan.
Bentuk kepedulian untuk mengejar akherat, bisa disalurkan melalui program wakaf tanah bagi pengembangan pendidikan Madani peduli. Selain itu bisa juga berupa zakat dan sedekah Peduli Guru Ngaji (Fisabilillah) dan peduli santri tahfidz qur’an. Dipilihnya Madani Peduli sebagai tempat menyalurkan zakat, infaq serta sedekah karena Madani Peduli fokus pada pendidikan Tahfidz Al Qur’an, hingga saat ini Madani Peduli sudah meluluskan santri sebanyak 30 tahfidz dengan biaya dari para infaq donatur.
Ayo bergabung menjadi keluarga donatur Madani Peduli
Hubungi: 081230000561
Donasi Rek BSI 99 561 561 62
An. Madani Peduli – YGQ Madani
www.madanipeduli.or.id