Ahmad Nurwahyudi

Sukses itu, Masuk Surga

“Setinggi apa jabatanmu dan sekaya raya apapun hartamu di dunia, namun jika tidak masuk Surga, itu artinya hidupmu TIDAK SUKSES,” ucap Ahmad Nurwahyudi membuka perbincangan dengan tim Madani Peduli.

Menurut Yudi”Bergelimang harta, paras rupawan, jabatan menjulang hingga memiliki puncak kekuasaan, namun banyak berbuat dosa. Ujungnya jauh dari Allah SWT. Kenapa bisa demikian? Karena orang tersebut tidak pernah mau membaca dan mengamalkan petunjuk Allah yang ada dalam Al-Qur’an,” tegasnya.

Bersama istri dan 2 putra kembar (Rayan dan Raihan)

Yudi mengingatkan sesungguhnya Al-Qur’an adalah pedoman sekaligus pegangan hidup. Manusia selama hidup di dunia, jika menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pedoman dan pegangan, maka dipastikan ia menjadi orang sukses karena masuk Surga.

“Sebetulnya perjalanan hidup ini simple. Jika tidak ingin tersesat ke neraka, maka tegakkan sholat dan baca petunjuk Allah di dalam Al-Qur’an. Maka anda akan sukses, artinya masuk surga,” tegas pria kelahiran Surabaya, 52 tahun lalu ini.

Karenanya, ia memiliki tanggungjawab besar dalam mendidik anak agar menjadi generasi sukses masuk surga. Satu diantaranya menjadikan anak penghafal Al-Quran melalui yayasan pendidikan Graha Qur’an dibawah naungan Madani Peduli.

“Alhamdulillah, dua anak saya kembar, Rayyan dan Raihan, seluruhnya sudah hafidz Qur’an tahun 2023. Sudah lega, meski begitu sebagai orang tua, saya tidak bosan-bosannya, setiap hari mengingatkan anak-anak untuk selalu baca Al-Qur’an sebagai tuntunan hidup,” bebernya.

Demikian pula dalam keseharian kegiatan di rumah, anak-anak selalu diwajibkan menerapkan bacaan doa. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk permohonan keberkahan dalam setiap aktivitas.

“Contoh yang simpel baca doa sebelum makan. Lalu, ketika masuk kamar mandi diawali kaki kiri di depan sambil baca Bismillahi Allahumma ini a’udzu buka minal khubutsi wal khabaitsi. Kemudian saat keluar kamar mandi, dahulukan kaki kanan dengan mengucapkan doa Ghufronaka,” ulas pria yang dibesarkan penuh disiplin dilingkungan keluarga TNI ini.

Meski hanya lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM), ia tetap menginginkan anaknya mampu menyelesaikan pendidikan tinggi. Tentunya harus ditambahi pendidikan dasar akhlaq yang berpedoman pada Al Qur’an. Sehingga bisa mengenal sekaligus membedakan hal yang baik dan buruk.

“Saya dulu sekelas lulus dari STM 2 Pawiyatan sempat kuliah di Unmuh Surabaya, namun hanya sampai semester 7 sudah protol. Untuk anak saya, boleh sekolah sampai pendidikan tinggi, namun tidak boleh meninggalkan Al Qur’an sebagai Hudan linnas atau petunjuk bagi manusia,” tegasnya.

Sementara untuk cita-cita anak, suami Lukitowati ini membebaskan sepenuhnya pada mereka untuk memilih. Tidak ada patokan khusus.
Boleh jadi pengusaha atau pejabat. Bahkan jika ingin menjadi pemimpin bangsa sekalipun, juga perbolehkan.

“Semua profesi baik. Namun ingat, harus yang sesuai dengan pedoman Al Qur’an. Supaya apa? Supaya sukses yakni masuk Surga. Percuma jika jadi pemimpin tapi akhlaknya tidak baik. Contohnya menjadi koruptor sehingga masuk neraka,” tandas pria dari 6 bersaudara ini.

Menurut kontraktor yang pernah berpindah-pindah domisili mulai dari Palembang, Medan hingga Banjarmasin Kalsel ini, anaknya pernah berujar untuk mengikuti jejaknya. “Keinginan si kembar nanti kalau kuliah ambil jurusan teknik. Sekarang masih kelas 2 SMA. Semoga tercapai menjadi ahli teknik yang baik, memegang teguh Al Qur’an biar sukses masuk surga,” tutupnya.

Bentuk kepedulian untuk mengejar akherat itu disalurkan melalui program Peduli Guru Ngaji (Fisabilillah) atau peduli santri dhuafa. dipilihnya Madani Peduli sebagai tempat menyalurkan zakat dan infaq karen Madani Peduli fokus pada pendidikan Tahfidz Al Qur’an, hingga saat ini Madani Peduli sudah meluluskan santri sebanyak 30 tahfidz dengan biaya dari para infaq donatur.

Ayo bergabung menjadi keluarga donatur Madani Peduli

Hubungi: 081230000561
Donasi Rek BSI 99 561 561 62
An. Madani Peduli – YGQ Madani
www.madanipeduli.or.id

Dilihat 467